Arsip | makalah RSS feed for this section

PERUBAHAN KE ARAH PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

3 Mar

mutu pendidikan

belajar pembelajaran

3 Mar

behavioristik vs konstrbehavioristik vs konstruktivistik

PENDEKATAN LINGUISTIK SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PEMBELAJARAN APRESIASI PUISI

3 Mar

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pengajaran puisi merupakan salah satu pokok bahasan yang terdapat dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pengajaran puisi senantiasa bergabung dengan pokok bahasan lain. Ketergabungan ini dapat dilihat dalam silabus kurikulum. Pokok bahasan puisi  yang terdapat pada aspek membaca.

Pembelajaran puisi pada mata pelajaran bahasa Indonesia belum meyajikan bahasan sampai pada tingkat apresiatif. Pembelajaran puisi pada tingkat apresiatif sangat penting untuk memaknai sebuah puisi secara utuh. Pokok Bahasan ini bukanlah hal baru dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Namun pada kenyataannya pokok bahasan puisi dalam buku-buku tidak disertai dengan pengetahuan tentang puisi. Dalam setiap unit hanya disajikan puisi dan pertanyaan-pertanyaan tentang struktur luar puisi  tersebut. Itu pun belum tentu mempertimbangkan jenjang pertanyaan puisi. Lebih lanjut, pada pelaksanaan pembelajaran puisi, siswa hanya disuruh menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Padahal dalam Kurikulum Silabus tercantum secara implisit teknik dan pembelajaran tentang puisi. Siswa tidak akan dapat memahami puisi tanpa paham cara memahami puisi itu. Untuk hal itu, dengan sendirinya diperlukan teknik pemahaman dalam memahami struktur dalam maupun struktur luar puisi  secara  efektif .

Kemampuan memahami puisi mempunyai arti yang sangat penting bagi kehidupan siswa, yakni sebagai sarana untuk meningkatkan nilai-nilai sosial, nilai estetika, nilai kemasyarakatan, nilai kemasyarakatan, dan sebagainya. Oleh karena itu pembelajaran puisi hendaknya menitikberatkan pada sikap apresiatif, bimbingan terhadap pemahaman puisi harus lebih didahulukan daripada pengetahuan tentang puisi, sehingga mempunyai sikap yang positif  dan timbul penghargaan terhadap karya sastra.

Untuk mewujudkan pembelajaran puisi pada tingkat apresiatif tentunya tidak mudah. Untuk mewujudkan pembelajaran yang dimaksud, diperlukan beberapa unsur dan faktor penunjang yang memadai. Salah satu faktornya adalah metode atau pendekatan.

Sebagai salah satu upaya yang merujuk pada pemecahan permasalahan pembelajaran  dalam meningkatkan pemahaman puisi, penulis mencoba memilih suatu pendekatan yang relevan. Pendekatan yang penulis pilih yaitu pendekatan linguistik. Pendekatan linguistik (kebahasaan) merupakan sebuah pendekatan pembelajaran puisi dengan cara memparafrasekan dan mencari pertalian makna kata dalam baris dan makna kata dalam bait.

B. Rumusan Masalah

Mengacu pada latar belakang masalah, dalam makalah ini penulis membuat rumusan masalah dengan jujuan untuk memperjelas dan mempermudah dalam mengawali pemaparan makalah. Berdasarkan pada latar belakang masalah, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

Apakah pendekatan linguistik dapat meningkatkan pemahaman puisi pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia siswa kelas VIII A SMPN 1 Padarincang Kabupaten Serang?”

II. KAJIAN TEORI  DAN ANALISIS MASALAH

A. Kajian Teori

1. Pengertian Pendekatan Linguistik

Sebagai salah satu cara memahami puisi, pendekatan linguistik banyak sekali variasinya, seperti yang dikenal dengan teori teks, pendekatan linguistik model Yunus, pendekatan stalistika dan sebagainya (Jabrohim, 1994:35).

Menurut H. Huslof  yang dikemukakan oleh Tugiman dalam Jabrohim (1994:35), pendekatan linguistik merupakan seperangkat istilah yang diperlukan dalam teori teks yang meliputi:  1) struktur luar (suface srtucture), 2) struktur dalam (deep structure), 3) transfomasi (transformation), 4) Parafrase (paraphrase), 5) interpretasi (interpretation).

Sofin Hadi (1993 :258) berpendapat, pendekatan linguistik adalah suatu model pendekatan pembelajaran apresiasi puisi dengan mamahami pertalian kata dalam tiap baris bait. Pemahaman ini dilakukan dengan cara memparafrasekan kata dalam baris melalui penjedaan, pemberian tanda baca. Setelah dilakukan penjedaan, maka prosakanlah puisi itu baris demi baris dan bait demi bait, sehingga menjadi sebuah cerita. Dengan demikian makna puisi akan lugas, mudah dimaknai.

2. Pengertian Apresiasi Puisi

Pengertian apresiasi puisi pada dasarnya sama dengan apresiasi sastra, namun bidang kajiannya lebih spesifik. Mengapresiasi puisi berarti menggauli puisi sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap puisi. Menurut Jabrohim (1994: 16) proses mengapresiasi dalam pembelajaran puisi dibagi menjadi empat tingkatan, sebagai berikut:

1)      Tingkat meggemari; yaitu ditandai adanya rasa tertarik terhadap karya   puisiserta keinginan untuk membacanya.

2)      Tingkat menikmati; yaitu seseorang mulai dapat menikmati puisi. Pada tingkat ini sudah mulai mengenali, memahami, dan merasakan serta mengambil makna sehingga menimbulkan kepuasan  dan kekaguman terhadap penyair.

3)      Tingkat mereaksi; pada tingkat ini ditandai adanya ingin mereaksi, menyatakan pendapat tentang sebuah karya yang telah dinikmatinya. Pada tingkat ini daya intelektual mulai bekerja. Mulai bertanya-tanya megapa penyair mengungkapkan hal itu? Adakah hal tersembunyi di balik ungkapan itu? dan seterusnya.

4)      Tingkat produktif; pada tingkat ini orang mulai menghasilkan karya-karya.

3.  Unsur-unsur Pembangun Puisi

Menurut Herman J. Waluyo (1991:70) bahwa puisi dibangun oleh dua struktur, yaitu strukrur luar dan struktur dalam puisi. Struktur luar merupakan unsur yang estetik yang tidak dapat dipisahkan  yang menjadi satu kesatuan yang utuh. Tarigan (1986:27) mempertegas  struktur luar puisi meliputi; diksi, imajinasi, kata nyata, dan ritme. Sedangkan struktur dalam meliputi; tema, perasaan, nada dan suasana, dan amanat.

Bertolak pada pendapat di atas, puisi dibangun oleh dua unsur yaitu struktur luar  (fisik) dan struktur dalam  (bathin) puisi atau metode puisi dan hakikat puisi.

B.  Analisis Masalah

Dalam pembelajaran puisi banyak dijumpai berbagai masalah. Masalah utama yang dihadapi dalam pembelajaran puisi yakni kurang diminati oleh peserta didik, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain:

1. Guru

Keberhasilan proses pembelajaran ditandai oleh respon peserta didik, sehingga terjadi interaktif yang menghasikan proses pembelajaran yang dinamis. Pembelajaran puisi yang kurang diminati siswa disebabkan oleh guru yang tidak jeli dalam memilih metode, pendekatan dan strategi pembelajaran. Pemilihan metode, pendekanan dan strategi pembelajaran yang tepat akan membangkitkan motivasi belajar peserta didik.

2. Media

Media pembelajaran dapat memberikan stimuli pada peserta didik. Pembelajaram puisi kurang diminati karena guru tidak pernah menampilkan media, misalnya gambar, model pembacaan puisi (CD), yang ditampilkan melalui infokus dan berbagai media yang dapat memberikan stimuli.

3. Relevansi  Materi Pembelajaran

Pemilihan materi yang relevan  sangat penting dalam sebuah pembelajaran. Dalam kenyataannya guru menyajikan materi pada peserta didik dengan dipaksakan tanpa memikirkan kemampuan peserta didik.

III. PEMECAHAN MASALAH

Sebagai upaya pemecahan terhadap masalah-masalah dalam pembelajaran puisi adalah sebagai berikut:

1. Guru hendaknya memilih metode, pendekatan dan strategi yang tepat dalam pembelajaran puisi. Salah satu upaya dalam meningkatkan pemahaman dalam pembelajaran puisi yaitu pendekatan linguistik dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:

a. Menerangkan hubungan kata atau kelompok kata  dalam baris atau bait puisi.

Pada langkah ini dijelaskan   bagaimana  cara mencari hubungan kata demi  kata atau hubungan dengan kelompok kata. Misalnya pada kutipan puisi berikut:

Aku ini binatang jalang/ dari kumpulannya terbuang/ Biar peluru menembus kulitku/ Luka dan bisa kubawa berlari/ Berlari/ hingga hilang pedih peri/Dan aku lebih tidak peduli/aku mau hidup seribu tahun lagi.

b. Mencari makna konotasi (makna pinjaman), sehingga makna itu menjadi jelas  dan lugas.

c. Menerangkan struktur dalam puisi, yang meliputi tema perasaan, nada dan  suasana, dan amanat.

d. Menerangkan struktur luar puisi, meliputi diksi, kata konkret, rima dan ritme.

e. Menginterpretasikan puisi dan mempresentasikannya di depan kelas.

2. Guru hendaknya memilih media pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik, misalnya dengan memutar CD, infokus dan medsia-mewdia lain yang dianggap relevan.

3. Guru hendaknya memilih materi pembelajaran yang relevan dengan peserta didik, sehingga materi dapat dipahami dan pembelajaran akan bermakna.

IV. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran puisi dengan menggunakan pendekatan linguistik mempunyai pengaruh yang besar dalam meningkatkan pemahaman puisi. Disamping pendekatan diperlukan strategi dan media pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik. Pembelajaran puisi dapat meningkat apabila:

  • Guru pandai memilih metode, pendekatan dan strategi yang tepat dalam pembelajaran puisi
  • Guru pandai memilih media pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik, misalnya dengan memutar CD, infokus dan medsia-mewdia lain yang dianggap relevan.
  • Guru pandai  memilih materi pembelajaran yang relevan dengan peserta didik, sehingga materi dapat dipahami dan pembelajaran akan bermakna.

B. Saran

Berdasarkan hasil temuan pembahasan dan kesimpulan menunjukkan   adanya pengaruh pendekatan linguistik dalam pembelajaran apresiasi puisi terhadap peningkatan pemahaman siswa terhadap puisi. Agar pembelajaran puisi digemari dan digairahi peserta didik, maka penulis menyampaikan saran kepada  berbagai pihak yang terkait terutama kepada pembelajar sebagai berikut:

1.      Pembelajar hendaknya dapat memilih berbagai pendekatan yang relevan dengan kebutuhan dunia peserta didik dan lingkugannya. Pendekatan pembelajaran yang releven mampu memberikan kegairahan,  minat  dan pengembangan potensi yang dimiliki  siswa. Pendekatan pembelajaran hendaknya sesuai dengan konteks dunia nyata bukan dunia abstrak.

2.      Pembelajar hendaknya mampu menumbuhkan minat belajar  bisa memberikan motivasi agar dapat mencapai hasil belajar yang baik, penuh gairah, menyenangkan dan menakjubkan.

3.      Pembelajar hendaknya mampu menumbuhkan suasana belajar yang kondusif , di ruang kelas atau di alam terbuka dengan konteks bahan ajar yang disesuaikan dengan kompetensi yang dimiliki siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian. Semarang: Rineka Cipta.

Aminudin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitan: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Astuti, Renggong. 1999. Kajian Mitos dan Nilai Budaya Tantu Panggelaran. Jakarta: C V Putra Raya.

Depdikbud. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Depdiknas. 2003. Kompetensi Dasar Bahasa Indonesia Kurikulum 2004. Jakarta.

Esten, Mursal. 1992. Memahami Puisi. Bandung: Angkasa.

Hidayat, Kosadi. 1994. Evaluasi Pendidikan dan Penerapan dalam Pengajaran

Bahasa Indinesia. Bandung: Alfabeta.

Jabrohim, 1994. Pengajaran Sastra. Yogyakarta:Pustaka.

Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Balai Pustaka.

Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta:

Sumarjo, Yakob dan Saini K.M. 1986. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta

Universitas Terbuka.

Surakhmad, Winarno. 1998. Dasar dan Teknik Penelitian: Pengantar

Metodologi Ilmiah. Bandung: Tarsito.

Tarigan, Henry Guntur. 1993. Prisip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa

Waluyo, Herman.J. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.